Harga Keramik Impor Cina Lebih Murah Dari Indonesia

Keramik impor asal China lebih murah dibanding harga granit product Indonesia. Misalnya yaitu granit tile atau porcelain tile.

Image result for keramik granit

Menurut Ketua Umum Asosiasi Bermacam Industri Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, keramik impor dari China itu lebih murah lantaran gas untuk industrinya lebih murah dibanding Indonesia. Oleh karenanya, China bisa jual produknya rata-rata untuk ukuran 60×60 atau 80×80 seharga Rp 75. 000 per m2. Sedang untuk Indonesia sendiri dapat lebih mahal diatas itu.

” Didalam negeri sendiri cost produksinya tidak harga borongan bangunan 2017 dapat segitu lantaran memanglah lantaran harga gas (daya). Namun mutunya memanglah sedikit tidak sama, lumayan jauh, ” tutur Elisa, saat dihubungi, Senin (5/9/2016).

Elisa menyampaikan sekarang ini industri di daerah Bandung, Jakarta, Tangerang, serta Sumatera Utara, beli gas dengan harga nya yang lebih tinggi dibanding China.

” Saat ini kita di Jawa Barat, di Bandung, harga besi hollow galvanis Jakarta, Tangerang, di kisaran US$ 9, 1/MMBtu. Bila di Sumatera Utara lebih mahal lagi US$ 12/MMBtu. Di China lebih murah, bila China harga gasnya sekitaran US$ 5/MMBtu, ” jelas Elisa.

Keramik impor yang masuk Indonesia datang dari Vietnam serta Thailand. Setali tiga duit dengan China, menurut Elisa, harga gas di Vietnam serta Thailand juga lebih murah dibanding Indonesia. Hingga harga nya lebih kompetitif dibanding product lokal.

Terkecuali lantaran harga gas, yang bikin keramik impor asal China lebih murah lantaran cost pengirimannya juga murah. Elisa menyampaikan, cost pengapalan dari China ke Indonesia, umpamanya ke Medan, lebih murah dibanding dari Jawa di kirim ke Medan.

” Cost transportasi dari China ke Medan umpamanya US$ 350-US$ 400 per container. Sedang antar Indonesia, dari Jawa ke Medan dipakai US$ 700-US$ 800 per container, ” kata Elisa.

Dia memberikan, dia cemas bakal berlangsung deindustrialisasi akibat banjirnya product impor. Alhasil, pelaku industri keramik malah lebih pilih jadi importir lantaran product impor lebih kompetitif dibanding lokal.

” Saya takut berlangsung deindustrialisasi. Kelak orang industri disini beralih jadi importir. Semakin bagus datangin keramik dari China dari pada produksi disini, ” papar Elisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s